Harga Sawit Anjlok, Ekonomi Warga Sekarat

SUBULUSSALAM ā€“ Krisis ekonomi global yang membuat anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hingga ke titik terendah dalam dua bulan terakhir ini sangat berdampak terhadap perekonomian petani di Kota Subulussalam maupun Kabupaten Aceh Singkil. Kondisi ini bisa menggambarkan betapa kelapa sawit menjadi nadi perekonomian masyarakat di dua daerah tersebut.

Penurunan hebat harga kelapa sawit ini bahkan telah memicu munculnya pengangguran di kedua daerah tersebut. Sebab sejak tahun 2005 lalu, masyarakat Subulussalam yang semula kerja di usaha perkayuan beralih ke perkebunan kelapa sawit menyusul adanya kebijakan Gubernur Aceh tentang pemberhentian illegal loging

Menurut Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh Singkil dan Kota Subulussalam Ir Netap Ginting, hampir 70 persen masyarakat di sana bergelut di perkebunan kelapa sawit.

Karena itu, Netap kuatir kondisi harga kelapa sawit yang sangat rendah saat ini akan membuat petani stres karena bukan hanya tidak dapat melakukan perawatan kebun, namun untuk menutupi kebutuhan sehari-hari pun tak mampu.

Ini akan berdampak luas, pengangguran bertambah banyak dan ujung-ujungnya, pencurian dan berbagai tindak kriminal bisa muncul. Makanya jangan sampai masalah ini terjadi, kita berharap ada solusi dari pemerintah, ujar Netap

Netap yang mengaku sedang berada di Yogyakarta guna mengikuti musyawarah nasional II Apkasindo akan menawarkan sejumlah program yang dimungkinkan dapat menjadi alternatif untuk membela petani atau pekebun kelapa sawit yakni meminta kepada pemerintah pusat untuk menghilangkan pajak ekspor.

Selain itu, pemerintah pusat diminta mensubsidi harga tandan buah segar (TBS). Lalu, Kabupaten/Kota yang memiliki komoditas kelapa sawit diberi peluang untuk membeli CPO petani/pekebun sawit dengan cara membangun tangki-tangki timbun.

Titik aman harga sawit paling rendah Rp 700 per kilogram, tegas Netap yang mengaku sangat prihatin dengan kondisi harga TBS Rp. 300-200 per kilogram di tingkap petani.

Netap mengatakan, selain anjloknya harga sawit di pasaran internasional, petani sawit di Subulussalam juga dihadapkan dengan tingginya harga pupuk. Harga pupuk saat ini tidak lagi sebanding dengan penghasilan dari buah sawit.

Padahal satu sisi, hasil panen kelapa sawit sangat tergandung dengan pemupukan yang harus dilakukan secara rutin. Bahkan, katanya, beberapa petani yang tetap memanen sawit semata-mata untuk mencegah kerusakan pohon pada masa yang akan datang. Kalau saja pohon tidak rusak, mungkin banyak petani yang tidak akan memanen, kata Netap lagi.

Di sisi lain, akibat anjloknya harga TBS, cukup banyak petani yang terpaksa mengalihkan bahkan mengembalikan kendaraan seperti mobil angkutan dan sepeda motor karena tidak mampu lagi menutupi cicilan kredit.

Tak sedikit pula warga yang selama ini menjadi buruh kelapa sawit menganggur. Sementara untuk pekerjaan lain nyaris tak tersedia di sana. Selama ini sebahagian besar warga dapat menutupi kebutuhan sehari-hari kendati hanya pengumpul barang bekas (botot). Namun, kini harga barang bekas juga anjlok total.

Tindak kejahatan

Secara terpisah, Kapolres Aceh Singkil AKBP Arief Pujianto yang dikonfirmasi Serambi,Jumat,(31/10) via telepon selulernya, membenarkan bahwa anjloknya harga TBS akibat krisis global mulai berdampak terhadap tindak kejahatan yakni pencurian dan perampokan.

Karenanya, guna mengatasi masalah tersebut, Kapolres mengaku telah mengumpulkan seluruh pimpinan perkebunan di Aceh Singkil dan Kota Subulussalam agar tetap membeli TBS warga kendati harga saat ini sangat rendah. Pihak perkebunan dan pemilik pabrik diminta untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menyakiti hati warga. Karena dengan demikian, warga tidak akan kehilangan mata usaha.

Kapolres Arief juga mengingatkan warga untuk tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri karena masalah ini merupakan persoalan internasional. Selain itu, lanjut Kapolres, pihaknya juga akan menggelar berbagai operasi kemasyarakatan dan memberikan pembinaan seperti menghimbau agar warga tidak hanya mengandalkan komoditas kelapa sawit, tapi penting pula menanam tanaman palawija seperti jagung, cabe, kacang kedelai dan lainnya. Jadi kalaupun sawit murah, ada penghasilan sampingan, kata Kapolres. (kh)

Sumber : Serambinews


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s