Bahasa Singkel Dijadikan Muatan Lokal di Subulussalam

logo kongres Peradaban AcehSUBULUSSALAM — Wali Kota Subulussalam, Merah Sakti, memerintahkan Dinas Pendidikan di Subulussalam memasukkan bahasa Singkel sebagai muatan lokal.

“Dalam waktu dua bulan ke depan, bahasa Singkel agar dijadikan muatan lokal,” kata Wali Kota, saat berbicara dalam diskusi dan sosialisasi upaya penguatan bahasa lokal di Subulussalam, Kamis (11/2/2016).

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian sosialisasi hasil Kongres Peradaban Aceh (#KPA2015) yang telah diselenggarakan pada Desember 2015 silam

Selama ini muatan lokal di sekolah-sekolah di Subulussalam adalah bahasa Aceh.

“Kami akan mengubahnya dan memasukkan bahasa Singkel dalam muatan lokal. Saya minta ini segera disiapkan oleh Dinas Pendidikan,” kata Merah Sakti.

Penutur bahasa Singkel selain di Subulussalam, juga di Kabuoaten Aceh Singkil dan sebahagian di Aceh Tenggara.

Diskusi tersebut menghadirkan pembicara Ketua Kongres Ahmad Farhan Hamid, sejarawan Singkel Muadz Vochry, Sekda Subulussalam Damhuri.

Pertemuan tersebut juga menyepakati terbentuknya majelis bahasa Singkel yang akan memperisokan langkah-langkah strategis memperkuat  bahasa lokal.

Sosialisasi juga diselenggarakan di Aceh Singkel, bertempat di Sapo Belen. Hadir sejumlah budayawan Sadri Ondang Jaya dan lain-lain.

Gubernur Diminta Bangun Kanal di Subulussalam

kanal
Gambar : Ilustrasi

BANDA ACEH – Wali Kota Subulussalam, Meurah Sakti SH meminta Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah membangun kanal besar sepanjang 12 kilometer (km) untuk mencegah banjir tahunan yang sudah puluhan tahun di tiga kecamatan dalam kota itu, yakni di Kecamatan Longkip, Runding, dan Sultan Daulat. Pasalnya, Pemko tak mampu membangun proyek yang ini yang diperkirakan mencapai Rp 700 miliar lebih.

 

Wali Kota menyampaikan hal itu kepada Serambi, Senin (7/12), seusai menyerahkan laporan terkini daerah itu kepada gubernur. Menurut Wali Kota, dalam laporannya kepada gubernur itu, salah satu masalah masyarakat yang belum ada solusi adalah banjir tahunan di tiga kecamatan tersebut.

“Setiap musim hujan, puluhan ribu masyarakat di tiga kecamatan itu, rumah dan halaman rumah mereka tergenang banjir sampai dua atau tiga minggu,” kata Meurah.

Wali Kota mengatakan pembangunan proyek itu juga sudah pernah disampaikan dua tahun lalu ke Pemerintah Aceh, namun hingga kini belum ada respon Pemerintah Aceh kapan proyek ini bisa dikerjakan, baik melalui APBA atau APBN. Padahal, kata Meurah, dokumen Survei Investigasi Design (SID) dan Detail Enginering Design (DED) sudah dibuat, bahkan Bapedalda Aceh dijadwalkan akan melaksanakan rapat untuk pelaksanaan kajian analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), Senin (14/12).

Wali Kota menambahkan sebetulnya bisa saja Pemko Subulussalam memplot anggaran untuk proyek ini yang diperkirakan mencapai Rp 700 miliar lebih, tetapi karena APBK setempat sangat terbatas, maka jika itu diplot bakal banyak program prorakyat lainnya tak bisa dilaksanakan.

Wali Kota juga menyebutkan ada beberapa kebutuhan lainnya yang mendesak di Subulussalam dan sudah diminta bantuan ke gubernur, antara lain jalan tembus lintas tengah antar kabupaten/kota. Misalnya pembangunan ruas jalan Runding (Subulssalam)-Krueng Luas (Aceh Selatan) dan Gelombang (Subulussalam)-Muara Situlen (Aceh Tenggara). Khusus untuk ruas Gelombang-Muara Situlen, kata Meurah, dikabarkan masuk dalam 14 ruas jalan tembus prioritas lintas tengah Pemerintah Zikir.

Sedangkan kepada Kapolda Aceh dan Pangdam IM, Wali Kota meminta agar segera ditempatkan personel di Kantor Kodim dan Mapolres yang sudah dibangun di lintasan Jalan Subulussalam-Tapaktuan.

Dikonfirmasi terpisah kemarin, Kadis Pengairan Aceh, Ir Syamsulrizal membenarkan informasi bahwa Bapedalda Aceh dijadwalkan akan melaksanakan rapat untuk pelaksanaan kajian Amdal, Senin (14/12). Kemudian, setelah dokumen Amdal itu selesai, baru proyek itu diusul ke Balai Sungai Wilayah Aceh dan Dirjen Pengairan Kementerian PU dan Perumahan Rakyat. Menurut Syamsurizal, penanganan banjir di Kota Subulussalam, masuk dalam sub penanganan banjir di Aceh Singkil yang diperkirakan butuh dana Rp 740 miliar.

Sumber : aceh.tribunnews.com

Film Pendek Istana di Surga

Published on Nov 18, 2013

Sinopsis
Anak-anak Desa Barabung penuh cita-cita, mereka giat belajar walaupun di sawah perkampungannya. Rasa ingin membantu, membangun untuk lebih baik sudah tertanam di jiwa mereka. Rumah ibadah di desa mereka belum rampung terbangun, dimanakah mereka akan mencari uang untuk membantu rumah ibadah tersebut? ayo saksikan di film ini